Langsung ke konten utama

DIMANA JANJI 19 JUTA LAPANGAN KERJA ITU?


LAPANGAN YANG KAMI MINTA

Sebuah Puisi karya Rafi'i


Pada hari ini, diriku masih bertanya-tanya

Apakah dana yang kami kumpulkan dan ciptakan

Hanya digunakan oleh mereka yang tak memiliki kepentingan?

 

Kerakusan mereka membuat kita menderita.

Sebuah janji diciptakan hanya untuk pemilihan,

Sebuah ketakutan diberikan hanya untuk pencegahan.

 

Namun, semua itu adalah kepalsuan dari mereka yang memiliki kemauan

Memaksa kita menjadi sapi perah

Mengatur otak kita menjadi hewan

Agar dirimu bisa makan,


Dan kami engkau terlantarkan.

 

“19 juta lapangan kerja” yang kau janji-janjikan itu,

Namun pada kenyataannya tak ada satupun kalangan kami yang merasakan.

Saat kami menagih kau malah mengatakan,

 

Jangan kufur nikmat”

 

Kenyataannya kau lah yang saat ini sedang Kufur”

Seolah-olah kau adalah suci

Dan kami adalah sapi.

 

Saat kami mencoba menciptakan sebuah pemasukan,

Kalian membongkar-nya dengan dalih mengganggu rakyat.

Namun kalian tak pernah tahu rakyat membutuhkan apa,

 

Kalian hanya melakukan itu, agar pekerjaan kalian dapat dilihat

Walau kenyataan yang terlihat, bahwa kalian tetap tidak bekerja,

Karena ada kondisi di sebuah tempat yang meresahkan rakyat tidak pernah di tindak.

Apakah karena setoran lancar atau karena pemasukan sampingan?

 

Yang kami butuhkan adalah kepastian dan bukti nyata,

Bukan sebuah janji-janji yang tak pernah ter-realisasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fadli Zon Memanipulasi Tragedi Mei 1998

  Tragedi Mei 1998 adalah salah satu babak terkelam dalam sejarah modern Indonesia. Ribuan nyawa melayang, properti ludes terbakar, dan yang paling mengerikan, laporan-laporan tentang perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa mencoreng kemanusiaan. Dalam iklim politik pasca-reformasi yang masih rentan, upaya untuk memahami, merekonstruksi, dan merekonsiliasi sejarah krusial untuk memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya tragedi serupa. Namun, di tengah upaya tersebut, muncul narasi-narasi tandingan yang alih-alih mencerahkan, justru berpotensi memanipulasi ingatan kolektif, bahkan menolak keberadaan fakta-fakta yang telah terverifikasi. Fadli Zon sebagai Mentri Kebudayaan Republik IIndonesia, sebagai figur publik dan politisi, kerap menjadi sorotan dalam konteks ini, khususnya terkait pandangannya yang meragukan insiden perkosaan massal 1998. Fadli Zon dan Penolakan Fakta: Sebuah Pola yang Berulang Fadli Zon, melalui berbagai platform, termasuk media sosial ...

KELANGKAAN MINYAK DI KOTA PENGHASIL MINYAK TERBESAR

  Namaku Muchamad Abim Bachtiar (akrab disapa bach), saat ini sedang berkuliah di Program Studi Administrasi Publik, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Selama mengikuti perkuliahan kurang lebih 6 semester dan sedang getol – getolnya aktif di Eksekutif Mahasiswa, saya tertarik untuk mengangkat isu minyak yang akhir – akhir ini hangat diperbincangkan di Kalimantan Timur. Kita semua mengetahui bahwa di Kalimantan Timur terdapat sebuah kota dengan penghasil minyak terbesar ketiga di Asia Tenggara, kota yang menjadi pusat ekspor minyak di berbagai provinsi hingga negara lain. Namun sayangnya, masyarakat yang hidup di kota tersebut malah mendapatkan masalah krisis atau kelangkaan dalam mendapatkan minyak dalam bermobilisasi. Kota ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kota Balikpapan. Aku akan memantik tulisan ini dengan memberitahu ke kawan – kawan semua bahwa Pertamina yang mendapatkan lisensi BUMN tak bosan - bosannya merugikan rakyat kecil. Korupsi yang meraup keuntungan 900t me...

Wajah Gelap Dibalik Seragam: Selamat Hari Anti Bhayangkara!

  1 Juli, 79 tahun bhayangkara Di balik seragam, wajah gelap bhayangkara.   Selamat ulang tahun, Bhayangkara (Ujar para elit). 1 Juli, kita kembali menyaksikan parade kebanggaan institusi yang katanya “ pelindung rakyat .  T ujuh puluh sembilan tahun bukan usia yang muda.  Namun sayangnya, dewasa tidak selalu berarti matang apalagi adil.  Dengan penuh semangat, para pejabat  " memberi sambutan " megah.   Lantas, di balik megahnya acara dan pesta pora dengan lencana,  pita syukur, dan parade seragam,  apa yang sebenarnya kita rayakan?! Apakah perayaan dari tangisan seorang ibu yang tak kunjung usai, sebab anaknya tak kunjung pulang???  Atau para rakyatmu yang dikubur pelan-pelan oleh peluru nyasar, botol bensin,  dan sepatu lars yang tak tahu malu itu.   Seragammu yang disetrika dengan rapi, senjatamu yang dibersihkan,  panggung megah mu yang disiapkan, semua demi merayakan hari kelahiran mu.  Namun kembali sayang, rak...