Langsung ke konten utama

Puisi "Katanya tentang Indonesia"

Katanya tentang Indonesia

Oleh: Fina (KBAM)


Katanya negri kita negri yang indah
Katanya negri kita negri yang kaya
Katanya tongkat kayu dan batu saja bisa jadi tanaman
Katanya katanya tentang negri kita

Katanya Indonesia sudah merdeka
Katanya rempah rempah kita sudah tak di perebutkan lagi
Katanya Indonesia tidak ada lagi kerja rodi
Katanya lagi tentang Indonesia

Ternyata negri kita memang indah
Indah karna para penipu cantik itu
Ternyata negri kita memang kaya
Kaya akan orang orang yg suka merampok saudaranya sendiri
Nyatanya negri ini sangat lah kaya dan indah bagi mereka Yang hanya duduk berpangku dengan perut mereka yang kian hari makin membesar
Ternyata ternyata tentang negri ini

Ternyata  Indonesia memang telah merdeka
Merdeka bagi mereka yang suka merampas hak orang lain
Ternyata rempah rempah kita memang tak di prebutkan lagi
Tapi malah sibuk merebut uang uang para rakyat kecil
Nyatanya memang sudah tak ada lagi kerja rodi tapi mereka terpaksa mengiklaskan tenaga mereka untuk para tikus tikus berdasi itu
Ternyata nyatanya tentang indonesia ku


Wahai kalian para penipu cantik
Wahai kalian para tikus tikus berdasi
Tak malu kah kalian akan dosa kalian
Tak malu kah kalian kepada negri yang kalian tinggali
Tak malu kah kalian terhadap orang orang yang berjuang demi hidupnya
Dan kalian dengan mudahnya hanya merampas hasil mereka
Terakhir kata ku
Ku harap kalian akan tersadar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fadli Zon Memanipulasi Tragedi Mei 1998

  Tragedi Mei 1998 adalah salah satu babak terkelam dalam sejarah modern Indonesia. Ribuan nyawa melayang, properti ludes terbakar, dan yang paling mengerikan, laporan-laporan tentang perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa mencoreng kemanusiaan. Dalam iklim politik pasca-reformasi yang masih rentan, upaya untuk memahami, merekonstruksi, dan merekonsiliasi sejarah krusial untuk memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya tragedi serupa. Namun, di tengah upaya tersebut, muncul narasi-narasi tandingan yang alih-alih mencerahkan, justru berpotensi memanipulasi ingatan kolektif, bahkan menolak keberadaan fakta-fakta yang telah terverifikasi. Fadli Zon sebagai Mentri Kebudayaan Republik IIndonesia, sebagai figur publik dan politisi, kerap menjadi sorotan dalam konteks ini, khususnya terkait pandangannya yang meragukan insiden perkosaan massal 1998. Fadli Zon dan Penolakan Fakta: Sebuah Pola yang Berulang Fadli Zon, melalui berbagai platform, termasuk media sosial ...

KELANGKAAN MINYAK DI KOTA PENGHASIL MINYAK TERBESAR

  Namaku Muchamad Abim Bachtiar (akrab disapa bach), saat ini sedang berkuliah di Program Studi Administrasi Publik, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Selama mengikuti perkuliahan kurang lebih 6 semester dan sedang getol – getolnya aktif di Eksekutif Mahasiswa, saya tertarik untuk mengangkat isu minyak yang akhir – akhir ini hangat diperbincangkan di Kalimantan Timur. Kita semua mengetahui bahwa di Kalimantan Timur terdapat sebuah kota dengan penghasil minyak terbesar ketiga di Asia Tenggara, kota yang menjadi pusat ekspor minyak di berbagai provinsi hingga negara lain. Namun sayangnya, masyarakat yang hidup di kota tersebut malah mendapatkan masalah krisis atau kelangkaan dalam mendapatkan minyak dalam bermobilisasi. Kota ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kota Balikpapan. Aku akan memantik tulisan ini dengan memberitahu ke kawan – kawan semua bahwa Pertamina yang mendapatkan lisensi BUMN tak bosan - bosannya merugikan rakyat kecil. Korupsi yang meraup keuntungan 900t me...

Wajah Gelap Dibalik Seragam: Selamat Hari Anti Bhayangkara!

  1 Juli, 79 tahun bhayangkara Di balik seragam, wajah gelap bhayangkara.   Selamat ulang tahun, Bhayangkara (Ujar para elit). 1 Juli, kita kembali menyaksikan parade kebanggaan institusi yang katanya “ pelindung rakyat .  T ujuh puluh sembilan tahun bukan usia yang muda.  Namun sayangnya, dewasa tidak selalu berarti matang apalagi adil.  Dengan penuh semangat, para pejabat  " memberi sambutan " megah.   Lantas, di balik megahnya acara dan pesta pora dengan lencana,  pita syukur, dan parade seragam,  apa yang sebenarnya kita rayakan?! Apakah perayaan dari tangisan seorang ibu yang tak kunjung usai, sebab anaknya tak kunjung pulang???  Atau para rakyatmu yang dikubur pelan-pelan oleh peluru nyasar, botol bensin,  dan sepatu lars yang tak tahu malu itu.   Seragammu yang disetrika dengan rapi, senjatamu yang dibersihkan,  panggung megah mu yang disiapkan, semua demi merayakan hari kelahiran mu.  Namun kembali sayang, rak...