Langsung ke konten utama

Bagaimana Bolshevik Merebut Kekuasaan Seratus Empat Tahun Lalu?


Bagaimana Bolshevik Merebut Kekuasaan 

Seratus Empat Tahun Lalu?

Ditulis oleh OLEG YEGĂ“ROV





Ratusan tahun lalu, Partai Bolshevik yang radikal merebut Petrograd (kini bernama Sankt-Peterburg) yang kemudian memulai periode pemerintahan komunis selama 70 tahun di Rusia. Istana Musim Dingin yang pernah menjadi simbol kekuatan kekaisaran Rusia adalah bangunan terakhir di ibukota Rusia saat itu yang bertahan dalam melawan kaum Bolshevik. Sayangnya upaya itu tak bertahan lama.

Sekelompok orang yang marah, menembak dan berteriak, menyerang dan mengambil alih bangunan ini. Seorang pria terluka, berlutut di jalanan, meminta yang lainnya untuk melanjutkan perang suci melawan tirani, sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya. Lautan manusia tak ada habisnya berlari dan menaiki gerbang raksasa ini. Akhirnya orang-orang ini berhasil masuk ke dalam bangunan besar ini. Revolusi telah menang dan teriakan "Uraaa!" (hore!) bergema di udara layaknya guntur.

Begitulah bagaimana Sergey Eisenstein, seorang direktur film Soviet terkenal, menggambarkan momen yang menjadi kunci pada peristiwa Revolusi Oktober, yakni penyerbuan Istana Musim Dingin yang pernah menjadi kediaman Wangsa Romanov di Petrograd dalam filmnya yang berjudul Oktober: Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia (1928). Adegan ikonik ini ditampilkan dengan penuh semangat. Namun ada satu kelemahan dalam film ini, bahwa sebenarnya apa yang digambarkan dalam film ini tidak benar-benar terjadi dalam peristiwa aslinya.



Guncangan dalam pemerintahan

Kenyataannya, kejadian yang sesungguhnya tidak seheroik seperti yang dibayangkan. Pada 6 November 1917 (bertepatan dengan 25 Oktober di kalender Julian, kalender yang digunakan di Rusia hingga tahun 1918), Pemerintahan Sementara yang memerintah Rusia setelah turunnya Nikolay II sejak bulan Maret berada dalam posisi lemah. Mereka tidak dapat menciptakan perubahan serius sehingga demonstrasi semakin meningkat. Mereka bahkan kehilangan kendali atas ibukota.

Saat itu, garnisun Petrograd sudah lebih dari kata tidak puas terhadap Aleksandr Kerensky, kepala Pemerintahan Sementara Rusia saat itu. Beberapa minggu sebelumnya, ia telah mencoba mengirim resimen yang ditempatkan di ibukota ke garis depan Perang Dunia I yang masih terus berkecamuk.

Prajurit-prajurit yang tak mau berperang, menolak untuk maju. Malah semakin banyak dari mereka yang datang untuk mendukung kaum Bolshevik yang radikal dan menyuarakan untuk melakukan pemberontakan lainnya. Pada tanggal 4 dan 5 Oktober, kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Lenin dan Lev Trotsky secara bertahap merebut kekuasan di kota tersebut.

Pergantian Rezim
Peristiwa ini lebih tampak seperti perubahan penjaga istana saja daripada sebagai sebuah revolusi. Para tentara menyambut para revolusioner bersenjata yang baru tiba di kantor pusat dengan mengatakan bahwa "Pemerintah Sementara telah digulingkan". Rezim Soviet dipilih oleh masyarakat kelas bawah yang menjadi pendukung utama kaum Bolshevik.

Prajurit yang tidak terlalu mendukung pemerintahan lama, dengah cepatnya mengubah posisi dan mendukung kaum revolusioner. Pada malam sebelum revolusi terjadi, Kerensky hampir tidak memiliki pasukan. Ia meninggalkan Petrograd pagi harinya pada tanggal 6 Oktober dan mencoba mengumpulkan resimen yang masih setia dari garis depan. Namun ia gagal melakukan hal ini.

Ketenangan sebelum Dimulainya Serangan
Sementara itu, orang-orang pemerintahan yang tersisa masih berusaha melindungi bangunan-bangunan utama yang berada di bawah kendali mereka, meski jumlah bangunan itu tak banyak, hingga akhirnya hanya menyisakan bangunan Istana Musim Dingin saja. Mereka memobilisasi semua orang yang masih bisa diperintah, termasuk para taruna (pelajar di sekolah militer) dan batalyon wanita.

"Masih belum jelas, beberapa jumlah tentara yang masih ada di sana, baik di dalam dan di luar, di sekitar istana, mungkin sekitar 500 sampai 700 orang," kata Yuliya Kantor, seorang sejarawan Rusia kepadaLenta.ru. "Mereka pergi dan kembali dari waktu ke waktu."

Pada malam itu, para pendukung Bolshevik, yakni kelompok militer mereka (Garda Merah) telah mengepung istana. Pukul 09.40 kapal penjelajah Aurora yang ditambatkan di sungai Neva mulai menembakkan tembakan kosong yang menjadi tanda perintah dimulainya serangan.

Serangan Langsung
Sejak kejatuhan kaum monarki, Istana Musim Dingin tak lagi digunakan sebagai tempat tinggal para bangsawan, namun digunakan sebagai markas untuk orang-orang Pemerintahan Sementara dan rumah sakit. Banyak tentara yang terluka di medan Perang Dunia I dan kemudian di bawa ke istana karena di sana tersedia banyak ruangan. Beberapa tentara yang terluka menjadi korban saat artileri Bolshevik mulai membombardir istana dari arah benteng Pyotr dan Pavel ke sisi lain sungai Neva.

Selain itu, serangan ini dilancarkan dengan tenang dan lebih menyerupai penguasaan kilat atas istana tersebut. Saat istana diserang, belasan orang pimpinan militer Bolshevik Vladimir Antonov-Ovseyenko menyelinap ke istana melalui gerbang yang terbuka dan tanpa penjagaan di bagian belakang istana.

Setelah beberapa jam dihabiskan untuk berkeliaran di dalam bangunan besar tersebut, kelompok ini akhirnya tiba di ruangan tempat semua menteri sedang mengadakan pertemuan. Antonov-Ovseyenko segera menangkap mereka dan di saat yang sama ia menjanjikan keselamatan bagi semua penjaga istana, jika mereka bersedia meletakkan senjata mereka.

Akhir dari Semua
Kurang lebih, apa yang mereka lakukan dalam serangan ini lebih menyerupai serangan yang hampir tak menumpahkan darah. Sebagai sejarawan, Boris Sapunov mengatakan bahwa "para pemimpin Soviet sebenarnya memiliki dasar untuk mengatakan bahwa Revolusi Oktober adalah pemberontakan yang paling tidak berdarah dalam sejarah pemberontakan di Eropa." Sejarah Pemerintahan Sementara di Petrograd pun berakhir dengan hening dan tanpa ada perlawanan serius.

Adapun yang paling menjadi korban utama dari serangan ke istana ini adalah gudang anggur yang indah. Demi mencegah para tentaranya untuk banyak minum minuman keras, Antonov-Ovseyenko memerintahkan agar tembakan diarahkan ke tempat tersebut. Anggur merah pun mengalir membasahi jalanan dan hilang di saluran pembuangan, sehingga memberikan kesan pada orang-orang bahwa telah banyak darah yang tumpah selama pertempuran. Faktanya, darah sesungguhnya baru tumpah di hari kemudian.

sumber :
https://id.rbth.com/




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negara Sibuk Mengurus Bendera, Rakyat Sibuk Mengurus Perut

  Di tengah melonjaknya harga sembako, semakin sempitnya lapangan kerja, dan pajak yang kian mencekik rakyat kecil, pemerintah kita justru menghadirkan “prestasi” baru: mengurusi bendera bajak laut dari serial anime berjudul "One Piece". Sebuah kain bergambar tengkorak lucu dari anime Jepang yang selama ini menjadi kebanggaan komunitas penggemarnya, tetapi akhir - akhir ini justru dianggap sebagai masalah serius oleh pemerintah Indonesia. Entah apa urgensinya, tapi yang jelas, negara tampak bergerak cepat—bahkan terlalu cepat—untuk urusan ini. Lucu, sekaligus menyedihkan. Untuk kasus korupsi bernilai triliunan rupiah yang kenyataannya merampas hak rakyat, justru aparat dan birokrasi bergerak lambat bak kura-kura yang tertatih-tatih. Laporan demi laporan mengendap di meja, penyelidikan berjalan seperti drama tanpa akhir, dan vonis sering kali terasa seperti gurauan. Namun, untuk urusan selembar kain bergambar, negara bisa sigap secepat kilat, lengkap dengan intimidasi dan ti...

Aturan Untuk Keadilan Rakyat atau Alat Kekuasaan?

  Aturan Untuk Keadilan Rakyat atau Alat Kekuasaan? Aneh rasanya, ketika ada sesuatu yang begitu besar dan memengaruhi hidup kita semua, justru sepi dari pembahasan publik. Padahal, jika kita membuka dan membaca pasal -pasal dalam RKUHP dan RKUHAP, banyak hal yang sangat mengganggu. Anehnya lagi, tidak banyak yang membahas, tidak banyak yang ribut. Apakah kita sedang dikondisikan untuk diam? Atau kita memang sudah tidak peduli? RKUHP: Hukum untuk Bungkam, Bukan untuk Melindungi RKUHP inisebenarnyasudahdisahkan 06 Desember 2022 lalu, tapibaru akan berlakusecara efektif pada 01 Januari 2026. Lucunya, sampai hari ini kita belum menemukan sosialisasi besar-besaran dari pemerintah. Malah, pasal-pasalnya masih tetap menyimpan banyak masalah. Misalnya: Pasal tentang penghinaan Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 218-220). Katanya ini delik aduan, tapi tetap saja bisa digunakan untuk menjerat siapa pun yang kritis. Sekarang apa-apa bisa dianggap menghina, bahkan sindiran bisa dikriminalisa...

Wajah Gelap Dibalik Seragam: Selamat Hari Anti Bhayangkara!

  1 Juli, 79 tahun bhayangkara Di balik seragam, wajah gelap bhayangkara.   Selamat ulang tahun, Bhayangkara (Ujar para elit). 1 Juli, kita kembali menyaksikan parade kebanggaan institusi yang katanya “ pelindung rakyat .  T ujuh puluh sembilan tahun bukan usia yang muda.  Namun sayangnya, dewasa tidak selalu berarti matang apalagi adil.  Dengan penuh semangat, para pejabat  " memberi sambutan " megah.   Lantas, di balik megahnya acara dan pesta pora dengan lencana,  pita syukur, dan parade seragam,  apa yang sebenarnya kita rayakan?! Apakah perayaan dari tangisan seorang ibu yang tak kunjung usai, sebab anaknya tak kunjung pulang???  Atau para rakyatmu yang dikubur pelan-pelan oleh peluru nyasar, botol bensin,  dan sepatu lars yang tak tahu malu itu.   Seragammu yang disetrika dengan rapi, senjatamu yang dibersihkan,  panggung megah mu yang disiapkan, semua demi merayakan hari kelahiran mu.  Namun kembali sayang, rak...